Mujahadah Kubro dan Peresmian KASANAH (Kampung Santri Gemah)

Semarang – Pondok Pesantren Addainuriyah Dua kembali mengyelenggarakan Mujahadah Kubro pada Minggu, 30 September 2018. Kegiatan yang menjadi salah satu cikal bakal KH.Dzikron Abdullah dalam mendirikan PP.Addainuriyah Dua yang terletak di Kelurahan Gemah, Pedurungan ini dihadiri oleh ratusan hingga ribuan jamaah. Kegiatan ini memang rutin diadakan setiap malam Senin Pon dalam kalender Jawa .

Dalam penyelenggaraan Mujahadah Kubro, tidak hanya santri yang turut meramaikan Kegiatan ini. Melainkan warga sekitar kawasan PonPes Addainuriyah Dua pun turut berpartisipasi dalam meramaikan kegiatan Mujahadah Kubro ini dengan mendirikan beberapa stand yang menjajakan berbagai macam barang hingga makanan dan minuman. Tentu saja, hal ini sekaligus turut membantu perekonomian masyarakat sekitar lingkungan PonPes Addainuriyah Dua.


Pada kegiatan yang ramai dengan jamaah ini, hadir pula para kyai, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, SE,MM, dan CEO Suara Merdeka, Kukrit Suryo Wicaksono serta para pejabat daerah setempat.

Momen Spesial Mujahadah Kubro

Tidak seperti mujahadah Kubro biasanya, mujahadah kali ini terasa istimewa. Pasalnya, hal ini bertepatan dengan diresmikannya Kampung Santri Gemah (KASANAH) oleh Wali Kota Semarang. Setelah agenda dzikir bersama, beliau meresmikan KASANAH yang ditandai dengan penandatanganan prasasti serta potong pita. Tentu saja, populasi santri yang mendominasi di kawasan Pondok Pesantren Addainuriyah Dua ini menjadi salah satu alasan ditetapkannya KASANAH sebagai satu dari 177 titik kampung tematik yang ada di Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Pak Hendi memaparkan mengenai peranan santri bagi warga di lingkungan KASANAH, yaitu salah satunya membantu perekonomian warga sekitar menjadi lebih baik. Selain itu, beliau mengajak semua pihak untuk ikut andil mewujudkan Kota Semarang menjadi lebih baik. Sebagai penutup, beliau berdoa agar Semarang dijauhkan dari berbagai berncana, dan terwujudnya warga yang kondusif, tenteram, dan sejahtera.
Usai peresmian KASANAH yang bertepatan dengan peringatan peristiwa G30SPKI ini, KH.Dzikron Abdullah selaku pengasuh PonPes Addainuriyah Dua menyampaikan mauidhotul khasanah mengenai peranan santri atas bangsa dan negara. Dalam ceramahnya, beliau menceritakan secara singkat bagaimana peranan santri dalam memperebutkan kedaulatan NKRI dari tangan penjajah hingga fatwa dari KH.Hasyim Asyary (pendiri NU), bahwa melawan penjajah wajib hukumnya. Peristiwa tersebutlah yang menjadi asal muasal Hari Santri Nasional yang selalu diperingati pada tanggal 22 Oktober.
Selain menjelaskan mengenai peranan santri terhadap bangsa dan negara, beliau juga menyampaikan mengenai filosofi pohon sawo yang banyak tertanam di halaman rumah para pejuang kemerdekaan yang tertera dalam arsip nasional.
Pohon sawo memiliki dua makna, yakni “showwu sukhufakum” (rapatkan barisan) dan “sami’na wa atho’na” (dengarkan dan taati). Para pejuang kemerdekaan terutama dari kalangan santri senantiasa merapatkan barisan untuk melawan penjajah dan selalu menaati Allah dan Rosulnya.
Usai mauidhotul khasanah, Mujahadah Kubro ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH.Dzikron Abdullah selaku pengasuh PonPes Addainuriyah Dua Semarang.
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close